<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mineral &#8211; AtlasNews.ID</title>
	<atom:link href="https://atlasnews.id/tag/mineral/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://atlasnews.id</link>
	<description>Aktual, Kritis Dan Berimbang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 May 2026 06:02:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://atlasnews.id/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-1-85x85.png</url>
	<title>Mineral &#8211; AtlasNews.ID</title>
	<link>https://atlasnews.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kontras Pahit di Bumi Takari: Taipan Keruk Kekayaan, Rakyat Menanam Debu dan Lumpur</title>
		<link>https://atlasnews.id/daerah/kontras-pahit-di-bumi-takari-taipan-keruk-kekayaan-rakyat-menanam-debu-dan-lumpur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[AtlasNews.ID]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 May 2026 06:02:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Tuapanaf]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Takari]]></category>
		<category><![CDATA[Mineral]]></category>
		<category><![CDATA[Pengusaha Tambang]]></category>
		<category><![CDATA[Tambang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://atlasnews.id/?p=6470</guid>

					<description><![CDATA[Kupang, ATN – Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, dikenal sebagai lumbung Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB). Pasir, kerikil, dan batu melimpah ruah, menjadikannya &#8220;surga&#8221;...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Kupang, <a href="http://AtlasNews">ATN</a> –</strong> </em>Kecamatan <a href="https://atlasnews.id/daerah/miris-warga-5-desa-di-takari-keluhkan-buta-jaringan-kami-belum-merdeka-secara-digital/">Takari</a>, Kabupaten Kupang, dikenal sebagai lumbung Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB). Pasir, kerikil, dan batu melimpah ruah, menjadikannya &#8220;surga&#8221; bagi para pengusaha tambang.</p>
<p>Namun, di balik pundi-pundi rupiah yang mengalir ke kantong para taipan, tersisa potret pilu <a href="https://atlasnews.id/tak-berkategori/semangat-gotong-royong-di-tolnaku-kala-gereja-masyarakat-dan-pemerintah-bersatu/">masyarakat</a> setempat yang harus berteman akrab dengan polusi dan rusaknya lingkungan.</p>
<p><strong>Eksploitasi di Jantung Niskolen</strong></p>
<p>Berdasarkan penelusuran AtlasNews bersama sejumlah awak media lainnya pada Sabtu (09/05), kondisi memprihatinkan terlihat jelas di Dusun Niskolen, Desa Tuapanaf.</p>
<p>Di lokasi ini, lebih dari dua <a href="https://atlasnews.id/daerah/gerak-cepat-dlh-kabupaten-kupang-tertibkan-pengusaha-tidak-ramah-lingkungan/">pengusaha</a> tambang skala besar beroperasi secara legal dengan Izin Usaha Produksi (IUP).</p>
<p>Perjalanan menuju titik tambang bukanlah perkara mudah. Akses jalan sepanjang 10 kilometer menuju Dusun Niskolen berada dalam kondisi rusak berat, berbatu, dan menyumbang <a href="https://atlasnews.id/daerah/jaga-kebersihan-lingkungan-pemerintah-kelurahan-babau-rutin-gelar-kerja-bakti/">polusi</a> debu yang pekat bagi siapa saja yang melintas.</p>
<p>Di lokasi tambang, terlihat pemandangan kontras berupa gunungan kerikil hasil sisa pencucian pasir (washing and screening). Jutaan meter kubik <a href="https://atlasnews.id/daerah/drainase-jembatan-tertutup-material-banjir-melanda-2-desa-di-kabupaten-kupang/">material</a> sisa ini dibuang begitu saja di sepanjang bantaran kali.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
