Kupang, ATN – Di tengah riuh rendah langkah kaki ribuan pemuda yang memadati jalanan Kabupaten Kupang dalam perayaan Paskah 2026, ada satu sosok yang berdiri dengan mata berkaca-kaca.
Robby Radja, pria yang dipercayakan menahkodai kepanitiaan besar ini, tidak sekadar melihat sebuah pawai Prosesi kemenangan. Ia sedang melihat sebuah mukjizat yang dirajut dari sisa-sisa kekuatan yang hampir habis.
Bagi banyak orang, Prosesi Paskah Pemuda Kristen Kabupaten Kupang tahun ini adalah sebuah kesuksesan estetis dan spiritual. Namun, di balik layar yang gemerlap, tersimpan narasi tentang pergumulan batin yang nyaris meruntuhkan semangat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Tuhan, Saya Tidak Sanggup Lagi”
Kalimat itu bukan sekadar kiasan. Robinson mengakui bahwa ada momen-momen gelap di mana beban di pundaknya terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Sebagai Ketua Panitia, ia dituntut untuk menjadi batu karang bagi rekan-rekannya tetap tegak meski diterjang ombak masalah koordinasi dan ekspektasi massa yang masif.
“Di balik senyum yang terlihat, ada lelah yang disembunyikan. Di balik keyakinan yang diucapkan, ada hati yang sempat goyah,” ungkap Robinson dengan jujur, kepada AtlasNews pada Rabu (15/04/2026).
Ia bercerita tentang malam-malam tanpa tidur, di mana pikiran terus berputar memikirkan detail-detail teknis yang belum rampung. Ada air mata yang jatuh dalam diam, sebuah bentuk pelepasan dari tekanan yang tak bisa ia tunjukkan di depan anggota panitia lainnya.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















