Efek beruntun (multiplayer effect) inilah yang menjadi inti dari investasi pariwisata ini. Di kaki patung yang megah itu, roda ekonomi warga lokal diproyeksikan akan berputar cepat:
Lapangan Kerja Baru: Pemuda lokal mengelola area parkir dan pusat pelayanan wisatawan.
Pemberdayaan UMKM: Mama-mama di Semau mendapatkan lapak strategis untuk menjual jagung titi, kuliner ikan bakar, hingga kain tenun khas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sektor Transportasi Hidup: Jasa perahu penyeberangan rakyat mengangkut arus wisatawan yang meningkat saban hari.
Infrastruktur Terakselerasi: Akses jalan hotmix, Dermaga Rakyat, hingga jaringan listrik dan sinyal seluler masuk secara masif.
Membalikkan Stigma, Mengalirkan Berkat ke Dapur Warga
Kehadiran ikon pariwisata ini sekaligus membalikkan narasi lama tentang Pulau Semau. Jika dulu Semau sering kali diidentikkan dengan stigma mistis yang tertutup, keberadaan landmark ini secara logis mengubah citranya menjadi destinasi wisata rohani dan alam yang terbuka, ramah, dan paling dicari di NTT.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terakumulasi dari tiket masuk dan aktivitas pariwisata nantinya dialokasikan kembali untuk beasiswa anak daerah, pembenahan jalan desa, serta bantuan modal usaha warga.
Patung Kristus Memberkati di Puncak Lalaka adalah jembatan menuju kesejahteraan. Tangan patung tersebut memang terentang mengarah ke kota, namun berkat nyatanya mengalir langsung ke dapur rumah tangga warga, ke perahu para nelayan, dan ke masa depan anak-anak di Pulau Semau.
Halaman : 1 2


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















