KUPANG, ATN – Dari pesisir Kota Kupang, mata yang memandang ke arah Pulau Semau kelak akan dihibur oleh pemandangan baru yang megah. Di Puncak Lalaka, Desa Hansisi, sebuah mahakarya setinggi 70 meter siap berdiri kokoh dengan tangan terentang.
Namun, di balik megahnya rancangan Patung Kristus Memberkati senilai Rp157 miliar ini, ada cerita yang jauh lebih besar dari sekadar struktur beton dan semen: ini adalah strategi wirausaha ekonomi publik untuk mengangkat harkat hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Langkah berani yang diinisiasi oleh Bupati Yosef Lede ini menuai dukungan hangat dari jajaran legislatif, salah satunya dari Anggota DPRD Kabupaten Kupang asal Partai Perindo, Mesak Mbura. Menurutnya, publik perlu meluruskan sudut pandang dalam melihat proyek raksasa ini agar tidak timbul salah paham di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hati kita bukan pada patungnya. Kita tidak menyembah batu dan semen, iman kita tetap pada Kristus yang hidup. Patung itu adalah ikon, alat, sekaligus iklan raksasa yang bekerja mendatangkan uang untuk rakyat,” ujar Mesak Mbura menegaskan sisi strategis pembangunan tersebut.
Meniru Jejak Bali: Dari Mahakarya Menjadi Magnet Industri
Gagasan ini tidak lahir dari ruang hampa. Jika Pulau Bali punya Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang sukses menjadi magnet wisatawan global dan penggerak utama ekosistem pariwisata daerah, maka Kabupaten Kupang kini menatap peluang yang sama melalui Patung Kristus Memberkati.
Patung ini bukan cuma landmark, melainkan visual hub yang terlihat jelas hingga ke sudut Kota Kupang bahkan menghadap ke arah Timor Leste, bekerja 24 jam mempromosikan keindahan Semau melalui unggahan media sosial para wisatawan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















