Kegiatan sosialisasi dan pelatihan tersebut menghadirkan dua pakar di bidang peternakan, yakni Kepala Bidang Perbibitan dan Produksi Ternak Dinas Peternakan Kabupaten Kupang, serta dokter hewan dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Batakte, drh. Harol Subu Taufan.
Dalam sesi pelatihan, para peternak dibekali pemahaman mendalam mengenai tata cara pemeliharaan modern, manajemen pakan bernutrisi tinggi, perawatan sanitasi kandang dan lingkungan, hingga mitigasi awal mencegah penularan penyakit menular.
“Terkait pelatihan ternak babi ini, selain masyarakat mendapatkan bibit ternak, mereka juga dibekali pemahaman bagaimana memelihara babi dengan baik, memberikan pakan yang tepat, merawat kandang dan lingkungan, serta melakukan tindakan pencegahan virus,” ujar Bonito Mooy.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mitigasi Risiko Virus dan Pengawasan Berbasis Digital
Langkah krusial ini diambil sebagai respons atas trauma kolektif peternak lokal pasca pandemi COVID-19, di mana wabah virus ternak babi (seperti African Swine Fever/ASF) sempat melumpuhkan sektor peternakan di Kabupaten Kupang hingga menyebabkan angka kematian ternak mencapai hampir 80 persen.
Untuk mengantisipasi potensi ancaman serupa, Pemerintah Kelurahan Oenesu bekerja sama dengan Puskeswan Kecamatan Kupang Barat menginisiasi sistem pengawasan dan penanganan cepat (early warning system) berbasis komunitas digital.
“Jika nantinya babi yang telah dibagikan menunjukkan gejala sakit atau terindikasi terpapar virus, kami membentuk grup WhatsApp khusus yang menghubungkan peternak penerima bantuan langsung dengan dokter hewan Puskeswan dan jajaran kelurahan. Dengan demikian, laporan penanganan medis dapat direspons secara cepat dan tepat sebelum penularan meluas,” jelas Bonito.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















