Dalam keterangannya, Chris menyoroti aspek medis terkait hasil visum et repertum. Ia mempertanyakan konsistensi pola luka dan jeratan pada tubuh korban.
“Jika benar bunuh diri, penyidik harus mampu menjelaskan secara rinci mekanisme kematiannya. Apakah posisi tubuh, alat yang digunakan, dan kondisi lokus delicti mendukung kesimpulan tersebut secara ilmiah?,” tegasnya.
Selain itu, pihak keluarga merasa tidak ada indikasi tekanan psikologis atau depresi berat yang lazimnya menjadi pendorong seseorang melakukan tindakan nekat tersebut. Kekosongan motif inilah yang menjadi salah satu dasar keraguan keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Saksi Kunci Jadi Perhatian Utama
Perhatian serius juga diarahkan kepada sosok Alfin Bria, yang diketahui sebagai orang terakhir bersama korban. Berdasarkan informasi keluarga, Alfin diduga merupakan orang pertama yang menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa.
“Penyidik harus jeli dan berani melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap semua pihak yang berada di lokasi pada waktu kejadian,” tambah Chris.
Bagi keluarga Vika, perjuangan ini bukan sekadar mencari kesalahan, melainkan menuntut transparansi dan akuntabilitas dari aparat penegak hukum. Mereka berharap proses hukum berjalan sesuai kerangka due process of law agar tidak ada ruang bagi opini yang tidak berdasar.
“Ini bukan hanya tentang Vika. Ini tentang keadilan. Tentang bagaimana negara melalui aparat penegak hukum mampu menghadirkan kebenaran material,” pungkas Chris menutup pembicaraan. (*)
Halaman : 1 2

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















