Menurutnya, organisasi ini bekerja untuk mendukung program pemerintah pusat, seperti penyediaan makanan bergizi gratis untuk masyarakat.
Meski demikian, ia merasa heran dengan reaksi yang terjadi hanya di NTT, sementara di daerah lain seperti Jawa dan Sumatra, program serupa berjalan lancar tanpa masalah.
Intimidasi Wartawan dan Klarifikasi Roy Radja
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tak hanya beradu argumen dengan wartawan, Roy Radja juga memberikan pernyataan yang bernada ancaman.
“Kemarin lu telepon beta. Beta urus orang punya kesejahteraan, bukan urus lu pun berita yang tidak jelas,” katanya dalam percakapan tersebut.
Bahkan, ia sempat menyebutkan nama wartawan yang dituduhnya “mencari makan” dari pemberitaan yang tidak berimbang.
Meski ketegangan semakin memanas, pada akhirnya Roy Radja meminta maaf atas ucapannya. Ia mengakui bahwa pada saat itu dirinya sedang dalam kondisi emosi tinggi, baru bangun tidur, dan belum makan.
“Kaka minta maaf tadi awal itu beta marah. Kaka tahu kalau beta baru bangun tidur, belum sikat gigi, belum makan apa-apa. Nanti jangan tulis yang tidak baik,” ujarnya.
Lanjut Aminadab, tim media yang terlibat dalam percakapan ini menegaskan bahwa tujuan mereka hanyalah untuk mencari keberimbangan dalam pemberitaan.

Wartawan yang terlibat berusaha menjelaskan bahwa tugas mereka adalah memberikan hak jawab kepada semua pihak yang terlibat dalam kontroversi ini.
Meskipun ketegangan sempat mencuat, suasana reda setelah permintaan maaf dari Roy Radja. Namun, kejadian ini tetap mencuri perhatian publik, mengingat potensi dampaknya terhadap hubungan antara organisasi masyarakat dan media di wilayah tersebut.
“Saya sebagai pekerja media hanya berusaha menjaga keberimbangan pemberitaan, saya juga hanya menjalankan tugas saya agar sesuai dengan kode etik jurnalistik, tidak ada kepentingan apa apa”, jelas Aminadab.
Halaman : 1 2

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















