“Seorang aktor harus mampu menguasai dirinya sendiri dan juga orang lain di sekitarnya. Kami ingin drama ini menjadi peristiwa yang hidup, bukan sekadar akting biasa,” ujar Guntur saat ditemui di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat.
“Selain teknik peran, pelatihan ini juga mencakup berbagai aspek seni pertunjukan lainnya, seperti: Seni Tari dan Gerak untuk memperkuat estetika panggung, Seni Rias: Menunjang karakterisasi tokoh secara visual. Juga seni Panggung (Mobile Stage): Mengingat pementasan akan menggunakan konsep panggung berjalan, tim memberikan teknik khusus agar dekorasi yang bersifat imajinatif atau imitasi tetap terlihat nyata dan “hidup” bagi penonton,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah merampungkan sesi di Elim, tim melanjutkan pelatihan di Gereja Imanuel Barate. Guntur juga telah menyusun jadwal padat untuk beberapa hari ke depan.
Ia mengungkapkan Pada hari sabtu Tim akan dibagi dua untuk memberikan pelatihan di Gereja Amfoang Selatan (Lelogama) dan Takari, hari Minggu Pelatihan terakhir kita akan difokuskan di wilayah Kupang Barat.
Guntur menegaskan komitmennya untuk mendampingi para peserta hingga mencapai standar profesional.
“Kami masih membuka kesempatan bagi peserta yang merasa gerakannya masih kaku atau kurang puas dengan hasil latihannya untuk menghubungi kami. Kami siap memberikan latihan tambahan,” tambahnya.
Setelah rangkaian pelatihan dari tim skenario selesai, tanggung jawab teknis selanjutnya akan diserahkan kembali kepada sutradara di masing-masing gereja untuk pemantapan akhir sebelum pementasan digelar.

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















