Menurutnya, sempat muncul anggapan di kalangan masyarakat bahwa penggunaan combine harvester (mesin panen) hanya ditujukan sebagai alat bisnis komersial semata.
Menurut Habel, anggapan tersebut keliru dan tidak tepat. Ia menekankan bahwa kehadiran mesin combine di Kupang, khususnya di Kupang Timur, telah menjadi kebutuhan mendesak bagi para petani.
“Menurut beta, itu bahasa yang keliru. Kita tahu lah, lahan sawah yang ada di Kupang ini sangat luas. Kebutuhan combine ini untuk membantu petani dalam proses panen,” ujar Habel dalam keterangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Habel menjelaskan, faktor utama yang mendasari tingginya kebutuhan akan mesin panen ini adalah pola tanam petani yang cenderung serentak. Saat musim panen tiba, seluruh lahan siap dipanen dalam waktu bersamaan. Kondisi ini membuat tenaga kerja manual tidak mencukupi, sehingga penggunaan mesin menjadi solusi yang tak terelakkan.
Lebih lanjut, Habel memaparkan bahwa hingga saat ini, kelompok tani yang dipimpinnya telah mengelola sekitar 13 hingga 14 hektar lahan dalam kurun waktu dua minggu operasional. Namun, ia tak menampik bahwa pelaksanaan operasional di lapangan bukannya tanpa kendala.
“Pelaksanaan di lapangan lancar-lancar saja, tapi karena keadaan cuaca yang tidak menentu, ini yang membuat kita sedikit terhambat dan tidak maksimal,” ungkapnya.
Habel berharap masyarakat dapat memahami bahwa penggunaan alat mekanisasi pertanian seperti combine harvester bukan sekadar untuk kepentingan bisnis pribadi, melainkan upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan hasil panen di tengah keterbatasan tenaga kerja dan tantangan cuaca.

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















