AtlasNews.ID – Siapa yang ingin di khianati? Masing masing orang tentu tidak ingin untuk di khianati, sebab penghianatan itu sakitnya luar biasa, namun tidak untuk punggawa Timnas Argentina. Angel Di Maria adalah pemain bola yang akrab dengan penghianatan.
Dikutib dari Autobiografi miliknya, minggu (10/03/2024), jejak karier sepak bola Angel Di Maria dimulai dari satu penghianatan ke penghianatan yang lain.
Penghianatan itulah yang mengiringi nasip Angel Di Maria, nasib yang ujungnya berbuah kebahagiaan. Yang mana sang Malaikat Di Maria akhirnya berhasil membawa Argentina juara Piala Dunia 2022.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berikut adalah jejak karier sepak bola Angel Di Maria yang sering diliputi sakitnya penghianatan.
Karier Di Maria di dunia si kulit bundar tidak perlu diragukan lagi. Fenomena kemunculan winger lincah asal rosario yang satu ini berawal dari ketertarikan Real Madrid kepada pemain Benfica ketika dirinya masih berusia 22 tahun.

Keputusan tepat diambil Di Maria untuk hengkang dari Benfica ke Real Madrid dan berkesempatan dilatih oleh The Special One, Jose Mourinho di Santiago Bernabeu pada musim 2010-2011.
Tempaan Mourinho berbuah manis pada karier Di Maria. Namun kisah masih itu tidak selalu terpatri dalam kariernya di Real Madrid. Kisah pahit ia alami, ketika hubungannya dengan Los Blancos mulai renggang ditandai dengan manuver Juan Mabur Perez akan menjualnya pada bursa transfer.
Rencana pembelian James Rodrigues setelah penampilan apiknya di piala dunia 2014 jadi satu alasan Angel Di Maria mulai disingkirkan dari rencana besar Los Blancos.

Ditambah skandal surat permintaan Perez kepada management timnas Argentina untuk tidak memainkan Di Maria di final piala dunia 2014 karna takut cedera.
Di Maria saat itu langsung merobek surat tersebut, dan dirinya berspekulasi pihak klub Real Madrid akan menjualnya saat bursa transfer usai helatan piala dunia.
Faktanya memang benar terjadi. Di Maria akhirnya di jual ke Manchester United dengan alasan Real Madrid enggan membayar gaji lebih kepadanya.
Di Maria beranggapan kepindahannya ke Manchester United bukan karna uang tapi memang sengaja disingkirkan oleh Real Madrid.
Kisahnya pun berlanjut di United pada musim 2014-2015 dibawah asuhan pelatih asal Belanda, Louis Van Gaal. Namun kariernya di MU hanya seumur jagung. Di Maria pun kembali bermasalah dengan Louis Van Gaal.

Bagi Angel Di Maria, Meneir Belanda ini merupakan sosok pelatih terburuk untuknya. Van Gaal dianggap tidak menaruh Di Maria pada posisi yang tepat, Van Gaal juga tidak bisa kembangkan potensi terbaik Di Maria.
“Van Gaal menggusur saya perlahan karena saya dianggap tak bisa mengikuti sistimnya. Meskipun saya mencetak gol dan beri assist, di pertandingan berikutnya ia justru mencadangkan saya,” tulis Di Maria.
Di Maria kemudian memutuskan untuk angkat kaki dari Old Traford untuk kemudian bergabung dengan Paris St. Germain.

Keputusan tepat baginya untuk pindah. Di klub ibu kota paris itu, Di Maria menghabiskan 7 musim lamanya. Di Maria merasa nyaman berada di PSG, dibuktikan dengan raihan gelar yang ia dapat bersama klub tersebut.
Di Maria menganggap PSG sebagai rumah kedua baginya. Mengingat di klub tersebut ia bersama rekan senegara seperti pelatih Poccetino, Messi dan Paredes.
Namun kisah pilu penghianatan Di Maria kembali terjadi. Tepatnya di musim 2022-2023,ia tiba tiba tidak diperpanjang kontrak oleh management klub Paris St. Germain.
PSG berubah arah untuk tidak perpanjang masa baktinya setahun lagi. Lebih parah lagi, PSG tidak melakukan ceremoni pelepasan kepada Di Maria. Pemain berbakat yang sudah memberikan banyak gelar kepada klub selama 7 musim.
Untuk itu, Angel Di Maria sangat marah dan kecewa pada klub kasta tertinggi ligue 1 Perancis itu dan memilih hengkang ke Juventus.

Dibalik penghianatan yang di alaminya di level klub, posisi terbalik terjadi di level Tim Nasional Argentina.
Debut perdana Di Maria pada olimpiade Beijing tahun 2008 saat dirinya masih berusia 20 tahun, ia menjelma menjadi salah pilar penting squad elbe celeste tersebut.
Angel Di Maria kerap kali menjadi monster penentu kemenangan di partai final piala dunia, copa america dan olimpiade. Ia sering menjadi pahlawan kemenangan timnas Argentina.
Lalu, pada piala dunia 2022 menjadi ajang pembuktian kualitas Di Maria benar benar terjawab. Ketika ia rela di mainkan dari bangku cadangan di beberapa match oleh Scaloni, namun Di Maria masih menunjukan tren positif dirinya sebagai monster final.
Ketepatan Scaloni menurunkan Di Maria di laga final piala dunia 2022 berbuah manis. Di Maria berhasil menyumbang 1 assist dan 1 gol untuk menahan imbang peranan hingga babak adu pinalti hingga Argentina berhasil meraih juara dunia yang ketiga kali di Qatar.

Pengorbanan Di Maria di tengah penghianatan dirinya di level klub pantas diberi apresiasi setinggi tingginya. Di usia uzur, mental, pengalaman Angel Di Maria tidak diragukan lagi.
Kedekatannya dengan mega bintang Timnas Argentina Lionel Messi juga menjadi sorotoan dimana keduanya adalah sosok pemain tua di squad Argentina pada piala dunia 2022.
Di Maria sadar level bintangnya berbeda jauh dari Messi, tapi Di Maria rela cahaya redup oleh keberadaan Messi. Ia menjadi salah satu support Messi di lini depan.
Di Maria rela menjadi pelayan Messi dalam taktik sepak bola hingga menjadikan Messi menjadi The Real GOAT.
Angel Di Maria tidak berbesar hati, dengan bangga ia bersama Messi mempersembahkan trofi piala dunia 2022 kepada negara tercintanya. Messi mempunyai jimat dalam timnas yaitu sosok Angel Di Maria.
“Ia sangat berterima kasih kepada saya. Ia sangat bangga kepada saya, ia tidak akan melupakan saya dalam setiap kesempatan,” tulis Di Maria pada akun Instagramnya.
Dengan berakhirnya perdebatan, bahwa Messi merupakan The Real GOAT dalam dunia sepak bola, kita tidak bisa melupakan Sosok Angel Di Maria.
Dibalik air mata penghianatan yang ia terima, ia mampu memberikan gelar terbaik bagi negaranya dan berbuah manis bagi perjuangannya di dunia sepak bola.
Vamos Angel Di Maria.

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
















