KUPANG, ATN – Di balik antrean panjang kendaraan yang mengular demi menantikan ketersediaan BBM bersubsidi (Pertalite), muncul spekulasi di tengah masyarakat: Apakah kelangkaan Pertalite sengaja diciptakan untuk memandu konsumen beralih ke BBM non-subsidi seperti Pertamax demi mengejar margin keuntungan yang lebih tinggi?
Jawabannya ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar strategi penjualan. Dinamika distribusi BBM, struktur margin usaha SPBU, serta regulasi ketat dari pemerintah memainkan peran sentral di balik polemik ini.
Struktur Margin: Bisnis BBM Adalah Bisnis Volume, Bukan Produk
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data dari Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas), keuntungan bersih (margin) yang diterima pengusaha SPBU dari penjualan BBM berada di rentang:
BBM Bersubsidi (Pertalite): \approx \text{Rp280} per liter
BBM Non-Subsidi (Pertamax): \approx \text{Rp400} per liter
Secara matematis, margin Pertamax memang bisa mencapai hampir dua kali lipat dibanding Pertalite. Bagi pemilik SPBU, menjual BBM non-subsidi jelas memberikan margin yang lebih tebal per liternya.
Namun, mengaitkan kelangkaan Pertalite semata-mata dengan manuver mengejar keuntungan Pertamax tidak sepenuhnya tepat jika dilihat dari kacamata operasional bisnis SPBU.
Mitos vs Realita: Mengapa Pertalite Sering Saja “Hilang”?
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















