Perlakuan tidak manusiawi itu bukan hanya bentuk teror psikologis, tetapi juga mencerminkan krisis sosial yang akut: ketika keberhasilan seseorang dipelintir menjadi ancaman terhadap kekuasaan lokal.
Tak hanya itu, Ibu Damaris yang dikenal sebagai janda pekerja keras dan pernah tercatat sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT), mendadak dihapus dari daftar penerima. Alasannya: karena statusnya sebagai janda.
“Apakah janda tidak punya hak hidup? Apakah janda tidak boleh bersyukur atas anak-anaknya yang berhasil?” tanya Imelda, getir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketidakadilan yang dialami keluarga kecil ini membuka luka lama tentang ketimpangan sosial dan represi budaya yang kerap menyasar perempuan tanpa perlindungan. Yang menyakitkan, semua itu muncul hanya karena satu unggahan penuh syukur.
“Postingan saya tidak menyebut nama siapa pun. Tapi kenapa keluarga kades merasa tersinggung? Apakah karena ada isu audit dana desa yang sedang hangat? Saya tidak tahu, tapi saya yakin ibu saya tidak pantas diperlakukan seperti penjahat,” tegas Imelda.
Ia berharap pemerintah daerah, aparat hukum, dan lembaga perlindungan perempuan segera bertindak. Sebab jika teror terhadap perempuan, janda, dan warga biasa dibiarkan, maka demokrasi desa akan mati perlahan.
“Media sosial bukan tempat kriminal. Itu ruang ekspresi, ruang merayakan syukur. Jangan ubah itu jadi alasan untuk mengintimidasi rakyat,” pungkas Imelda.
Kisah ini menyentuh bukan hanya karena luka yang ditorehkan, tetapi karena keberanian seorang anak dalam membela martabat ibunya, seorang perempuan desa yang hidupnya adalah doa dan perjuangan. (*)
Halaman : 1 2

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















