Penghayatan yang begitu mendalam ini membuat sejumlah penonton, terutama kaum ibu-ibu yang tak kuasa menahan emosi. Isak tangis hingga teriakan histeris terdengar di sela-sela kerumunan saat Yesus jatuh tersungkur di bawah beban salib, sementara para serdadu terus memaksanya berdiri dengan tendangan dan cacian.
“Luar biasa, saya seolah melihat kejadian aslinya. Aktingnya begitu nyata hingga membuat hati kami teriris melihat penderitaan itu,” ujar salah satu warga yang hadir di lokasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesuai dengan tema pementasan, Yesus tidak sendirian dalam perjalanan menuju kematian-Nya.
Ia digiring bersama dua orang penjahat yang juga memikul kayu salib mereka masing-masing. Kontras antara ketenangan Yesus yang penuh pengampunan dengan keputusasaan kedua penjahat tersebut menambah kedalaman narasi fragmen ini.
Iring-iringan ini bergerak perlahan meninggalkan titik Puluthie menuju Bukit Golgota. Di sepanjang jalur, masyarakat berdiri membisu, memberikan penghormatan terakhir bagi lakon teaterikal yang menggambarkan penebusan dosa umat manusia tersebut.
Kehadiran pementasan ini juga mendapat atensi khusus dari pejabat daerah. Terlihat di barisan depan, Wakil Bupati Kupang, Aurum Titu Eki, menyaksikan setiap adegan dengan saksama bersama sejumlah pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Kupang.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















