Ia mengatakan, rumput laut yang dibudidayakan oleh dirinya bersama beberapa rekan terserang sejenis penyakit yang mengakibatkan bibit rumput laut layu dan rusak hingga tidak dapat dipanen.
Saat ditanya terkait jenis penyakit yang menyerang, Yohanis Rote mengungkapkan jika dirinya pun tidak familiar dengan penyakit tersebut.
“Kami sebut penyakit putih, serang bibit di pangkal dan ujung batang rumput laut”, jelasnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan tersedak Yohanis mengaku mengalami kerugian hingga belasan hingga puluhan juta rupiah sejak tahun 2023. Kerugian tersebut berasal dari pengadaan bibit rumput laut.
“Sejak tahun 2023 kami selalu gagal panen, kalau pun panen hasilnya menurun. Kalau kami beli bibit 500 kg yang kami panen hanya puluhan kilogram saja. Terus begitu setiap saat. Kami rugi pak”, ungkapnya.
Keduanya bersama pera petani rumput laut di Desa Lifuleo memutuskan untuk beralih profesi menjadi pekebun guna mendapatkan kebutuhan bagi keluarga.
Untuk itu, dengan publikasi yang dilakukan akan menjadi atensi sejumlah pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Kupang guna memberikan solusi bagi 100 lebih pembudidaya rumput laut.
“Semoga keluhan kami di dengar Pemerintah, dan kami dibantu”, tutup Yohanis.

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















