Mereka mengurung diri di kamar dan menolak ke luar rumah karena takut dipermalukan.
Ditempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Eliazer Teuf, saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menegaskan, “Kami sudah terima laporan resmi dari orang tua siswa. Kami sudah layangkan surat panggilan kepada Kepala Sekolah untuk hadir ke Dinas pada Senin depan,”kata Eliazer Teuf.
Eliazer menambahkan bahwa tindakan yang mengorbankan hak anak untuk belajar tidak bisa dibenarkan.
“Persoalan ini harus diselesaikan secara bijak dan tidak menjadikan siswa sebagai korban konflik,” tegasnya.
Ironi di Tengah Program Kabupaten Emas
Apa yang menimpa LTK dan NAK menjadi ironi tersendiri. Pemerintah Kabupaten Kupang melalui Bupati Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum Titu Eki gencar mendorong program Kabupaten Emas, dengan salah satu prioritas di bidang pendidikan.
Namun kenyataannya, di ujung utara Amfoang, dua anak yang justru memiliki semangat tinggi untuk belajar harus terpinggirkan hanya karena ibunya menyuarakan kebenaran.
Atriana sendiri menegaskan bahwa niat awalnya membagikan foto siswa yang dipulangkan bukan untuk menjatuhkan pihak sekolah.
“Saya hanya merasa iba. Saat itu saya berpikir, kalau orang tua mereka punya uang, mungkin bisa bayar. Tapi kalau tidak ada, siapa yang peduli dengan nasib mereka?” ujarnya lirih.
Menurut Atriana, uang sekolah di SD Negeri Fatunaus sebelumnya sebesar Rp10.000 per bulan, dan uang pembangunan Rp25.000 per tahun.
Namun, pada tahun ajaran baru, uang sekolah diturunkan menjadi Rp5.000 per bulan, sementara uang pembangunan naik menjadi Rp50.000 per anak.
Belum jelas apakah kebijakan uang pembangunan ini menjadi latar belakang utama diskriminasi yang terjadi, namun kasus ini memperlihatkan adanya ketimpangan dalam sistem pendidikan pedesaan yang patut dievaluasi serius.
Harapan untuk Keadilan dan Masa Depan Anak-Anak
Hingga berita ini diturunkan, pihak media belum berhasil mengonfirmasi Kepala Sekolah Ilfony H. Kapitan.
Upaya pencarian kontak yang bersangkutan masih terus dilakukan. Media ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi Kepala Sekolah untuk menyampaikan hak jawab atas tuduhan yang berkembang.
Yang jelas, kasus ini sudah membuka mata publik akan pentingnya empati dan perlindungan hak anak di dunia pendidikan.
Di tengah gencarnya program pendidikan merata, kisah dua bocah dari Amfoang ini harus menjadi alarm keras bagi semua pihak agar tidak ada lagi anak-anak yang dihentikan sekolah hanya karena orang tuanya menyuarakan keprihatinan. (***)

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















