Oleh: Him Mone
ATN – Jalanan Kota Kupang diprediksi akan riuh pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Presiden ke-7 Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo, dijadwalkan kembali menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadirannya dalam agenda publik seperti jalan santai di kawasan Car Free Day Jalan El Tari hingga Karnaval Budaya di Pantai Lai Lai Bissi Koepan (LLBK) siap menyedot perhatian ribuan warga.
Bagi sebagian orang, kedatangan ini adalah obat rindu bagi mantan kepala negara yang selama satu dekade memimpin begitu lekat dengan masyarakat NTT. Namun di panggung politik nasional, safari politik ini tak lepas dari sorotan tajam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karpet Merah Warga dan Sentuhan “Bapak Pembangunan NTT”
Tidak bisa dipungkiri, masyarakat NTT memiliki ikatan emosional tersendiri dengan Jokowi. Selama dua periode masa jabatannya, Jokowi tercatat 20 kali mengunjungi NTT sebuah rekor frekuensi kunjungan presiden terbanyak ke wilayah kepulauan ini sepanjang sejarah Indonesia modern.
Kerinduan masyarakat NTT bukan tanpa alasan. Di bawah kepemimpinannya, NTT bertransformasi dari daerah yang kerap diidentikkan dengan ketertinggalan menjadi salah satu episentrum pembangunan infrastruktur nasional. Beberapa jejak nyata “buah tangan” pembangunan Jokowi di NTT meliputi:
Infrastruktur Air & Ketahanan Pangan: Pembangunan deretan bendungan strategis seperti Bendungan Raknamo (Kupang), Rotiklot (Belu), Napun Gete (Sikka), hingga Temef (TTS) untuk mengatasi masalah kekeringan menahun.
Wajah Beranda Negara (PLBN): Modernisasi Pos Lintas Batas Negara seperti PLBN Motaain, Motamasin, Wini, dan Napan yang mengubah wajah perbatasan Indonesia–Timor Leste menjadi megah dan membanggakan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















