Pemandangan perangkat desa yang duduk di pesisir pantai sambil memangku laptop kini menjadi pemandangan lazim di Onansila. Kondisi ini dinilai sangat tidak efisien, terutama saat cuaca buruk atau angin kencang yang sering melanda wilayah Semau Selatan.
Pada sektor pendidikan, Harlens Syoen mengungkapkan menjadi sisi paling terdampak dari krisis sinyal ini.
Keluhan serupa datang dari para orang tua dan siswa, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Di era di mana sumber belajar dan tugas sekolah banyak dialihkan ke platform digital, para siswa di Onansila harus berjuang lebih keras dibanding rekan sejawat mereka di kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ujian nasional, kadang para siswa dari beberapa sekolah harus nunut ke sekolah lain di desa tetangga yang memiliki akses telekomunikasi lebih memadai, ini ironis bagi kami,” imbuhnya.
Hal ini semakin membuat para siswa kesulitan mengakses jurnal atau video pembelajaran ataupun sekedar mengerjakan tugas.
Jes Lalay yang merupakan warga desa Onansila pada kesempatan yang sama menuturkan bahwa untuk bisa menelepon kerabat atau menggunakan layanan data, mereka harus berpindah posisi ke arah pantai yang berhadapan langsung dengan letak geografis Kota Kupang.
“Kami bergantung pada sisa-sisa sinyal yang terbawa angin dari kota. Kalau cuaca mendung, praktis kami terisolasi total,” ungkapnya.

Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















