Puluhan Wartawan Di NTT Gelar Aksi Tolak RUU Penyiaran. Serukan 5 Poin Penolakan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 7 Juni 2024 - 11:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Him Mone Editor : Redaksi Dibaca 209 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kupang, AtlasNews. ID – Puluhan Wartawan Provinsi NTT yang tergabung dalam tujuh organisasi profesi, gelar aksi damai menolak draft Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran, di halaman gedung DPRD Provinsi NTT, Kota Kupang pada Jumat (07/06/2024).

Dalam penyampaian orasinya, sejumlah wartawan tersebut secara tegas menolak RUU Penyiaran dengan membawa surat tuntutan yang berisi lima poin penting penolakan.

Massa aksi damai tersebut berkumpul di depan Gedung DPRD NTT, dan membentang beragam poster dan spanduk bertuliskan penolakan terhadap RUU Penyiaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat tiba di halaman kantor Dewan, dengan suara lantang salah satu koordinator Jimmy Amnifu yang juga merupakan ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kupang mengatakan RUU Penyiaran yang di susun oleh DPR RI mengancam kebebasan pers dan meredupkan kehidupan demokrasi.

Aksi masa penolakan kemudian diterima langsung oleh 5 Orang Anggota Komisi 1 DPR Provinsi NTT yakni Yohana Koli ( Wakil Ketua Komisi I, Yohanis Rumah (Ketua Fraksi PKB), Stef Komerihi ( Fraksi Gerindra), Finsensius Patta ( Fraksi PDIP) guna membahas tuntutan massa aksi dan juga sekaligus menyerahkan surat rekomendasi penolakan RUU Penyiaran.

Dalam pertemuan tersebut, salah satu koordinator aksi diberikan kesempatan untuk membacakan lima poin penting menyangkut penolakan draf RUU Penyiaran yang melarang wartawan melakukan liputan investigasi.

“Apapun dalilnya investigasi merupakan ruhnya sebuah pemberitaan, makanya tidak boleh dilakukan pembatasan,” ujarnya.

Terdapat lima poin penting massa aksi damai solidaritas wartawan Provinsi NTT tolak RUU Penyiaran saat dibacakan dalam gedung dewan, antara lain:

Pertama, ancaman terhadap kebebasan Pers Pasal-pasal bermasalah dalam revisi ini memberikan wewenang berlebihan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mengatur konten media, yang dapat mengarah pada penyensoran dan pembungkaman kritik terhadap pemerintah dan pihak -pihak berkepentingan, seperti termuat pada draf pasal 8A huruf q, pasal 50B huruf c dan pasal 42 ayat 2.

Kedua, kebebasan berekspresi terancam ketentuan yang mengatur tentang pengawasan konten tidak hanya membatasi ruang gerak media, tetapi juga mengancam kebebasan berekspresi warga negara, melalui rancangan sejumlah pasal yang berpotensi mengekang kebebasan berekspresi.

Ketiga, kriminalisasi jurnalis adanya ancaman pidana bagi jurnalis yang melaporkan berita yang dianggap kontroversial merupakan bentuk kriminalisasi terhadap profesi jurnalis.

Keempat, Independensi Media Terancam, Revisi ini dapat digunakan untuk menekan media agar berpihak kepada pihak-pihak tertentu, yang merusak independensi media dan keberimbangan pemberitaan, seperti termuat dalam draf pasal 51E.P.

Baca Juga :  Edukasi Keselamatan di Kota Kupang: PPGD untuk Wajib Pajak dan Masyarakat 

Kelima, Revisi UU Penyiaran berpotensi mengancam keberlangsungan lapangan kerja bagi pekerja kreatif, munculnya pasal bermasalah yang mengekang kebebasan berekspresi berpotensi akan menghilangkan lapangan kerja pekerja kreatif, seperti tim konten Youtube, podcast, pegiat media sosial dan lain sebagainya.

“Kami solidaritas wartawan Provinsi NTT dengan ini meminta kepada DPR RI harus melibatkan organisasi pers, akademisi dan masyarakat sipil dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan kebebasan pers dan kebebasan berekspresi,” ungkapnya.

Kemudian pemerintah tidak mengangkangi semangat reformasi dengan melemahkan kerja-kerja pers melalui kebijakan yang mengekang kemerdekaan pers.

“Kami minta DPRD Provinsi NTT mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan menolak pasal-pasal karet dalam RUU Penyiaran dan mengirimkan pernyataan sikap tersebut ke DPR RI,” terangnya.

Sementara itu Ketua Komisi I DPRD Provinsi NTT, Yohana Koli, didampingi Anggota Komisi menyambut puluhan jurnalis menyampaikan dukungannya dan akan kami teruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga memohon maaf kepada massa aksi atas ketidakhadiran Ketua DPRD Provinsi NTT.

“Semoga apa yang disuarakan oleh  kawan-kawan jurnalis hari ini dapat kami sampaikan dan akan dikabulkan oleh pihak DPR-RI, karna ini merupakan domain dari DPR pusat. Kami hanya perpanjangan tangan dari rekan rekan” ujarnya.

Puluhan Wartawan Di NTT Gelar Aksi Tolak RUU Penyiaran. Serukan 5 Poin Penolakan
Foto: Massa Aksi Solidaritas Wartawan Provinsi NTT usai di Terima oleh Komisi I DPRD NTT di ruang Kelimutu.

Untuk diketahui, tujuh organisasi profesi wartawan Provinsi NTT yang menggelar aksi penolakan RUU Penyiaran yakni, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kupang, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Jurnalis Online Indonesia (JOIN), Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

Berita Terkait

Ketua DPRD Kabupaten Kupang Tampik Tuduhan Anggaran Ganda, Reses dan Pansus LKPJ
Imbas Pemotongan Dana Desa, KPM BLT di Oebelo Dipangkas Drastis Menjadi 15 Orang
Gagal Selesaikan LPJ, 14 Kepala Desa di Kabupaten Kupang Dinonaktifkan Sementara
Pemdes Oebelo Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026. Wujud Transparansi dan Keterbukaan Anggaran 
310 Siswa SMP Negeri 1 Kupang Tengah Jalani Ujian Sekolah Berbasis Online.
Yohanis Mase Buka Suara: “Pansus LKPJ dan Reses Tetap Jalan, Tak Ada Anggaran Ganda!”
Bayar Pajak Lebih Mudah, Perlindungan Lebih Pasti, Jasa Raharja Dukung Transformasi Layanan Publik
Lagi, Hendrikus Djawa Ditetapkan Sebagai Tersangka: Kini Terjerat Kasus ITE di Polda NTT

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp AtlasNews.ID

+ Gabung

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 19:44 WITA

Ketua DPRD Kabupaten Kupang Tampik Tuduhan Anggaran Ganda, Reses dan Pansus LKPJ

Senin, 20 April 2026 - 19:13 WITA

Imbas Pemotongan Dana Desa, KPM BLT di Oebelo Dipangkas Drastis Menjadi 15 Orang

Senin, 20 April 2026 - 18:38 WITA

Gagal Selesaikan LPJ, 14 Kepala Desa di Kabupaten Kupang Dinonaktifkan Sementara

Senin, 20 April 2026 - 10:45 WITA

Pemdes Oebelo Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026. Wujud Transparansi dan Keterbukaan Anggaran 

Senin, 20 April 2026 - 10:16 WITA

310 Siswa SMP Negeri 1 Kupang Tengah Jalani Ujian Sekolah Berbasis Online.

Sabtu, 18 April 2026 - 21:08 WITA

Bayar Pajak Lebih Mudah, Perlindungan Lebih Pasti, Jasa Raharja Dukung Transformasi Layanan Publik

Sabtu, 18 April 2026 - 10:39 WITA

Lagi, Hendrikus Djawa Ditetapkan Sebagai Tersangka: Kini Terjerat Kasus ITE di Polda NTT

Sabtu, 18 April 2026 - 10:23 WITA

Pakar Hukum Soroti Tumpang Tindih Pansus LKPJ dan Reses: “Sah Prosedural, Cacat Tujuan”

Berita Terbaru