Oelamasi, AtlasNews.ID – Rusaknya sejumlah infrastruktur jembatan dan jalan penghubung Manubelon, Kecamatan Amfoang Barat Daya menuju Naikliu, Kecamatan Amfoang Utara dikeluhkan warga setempat.
Pasalnya, kondisi rusaknya sejumlah infrastruktur tersebut sudah sekian lama dan belum pernah mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kupang maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
“Kami butuh akses jalan yang layak. Saat musim hujan lebih mempersulit kami ketika hendak ke Kupang atau sekedar akan memasarkan hasil perkebunan. Sekian lama kami menanti uluran tangan pemerintah tapi sampai saat ini belum ada,” ujar Yunus Kaunine kepada media ini, Selasa, (14/05/2024).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yunus mengakui, kondisi jalan penghubung yang rusak tersebut sulit digunakan bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua. Dibeberapa titik ada jalan yang tergerus oleh aliran banjir dan rubuh.
“Saya selalu gunakan jalan ini untuk beraktifitas, sebelum kali kapsali, saya harus lewat jalan yang hampir rubuh ini. Jalan ini sekitar tanggal 2 April rusak akibat tergerus banjir kali Kapsali sampai saat ini belum diperbaiki. Kalau pemerintah ada hati tolong kami dulu,” ungkapnya.
Dari pantauan media ini, kondisi ruas jalan yang menghubungkan tiga kecamatan yakni Amfoang Barat Daya, Amfoang Barat Laut dan Amfoang Utara sangat jauh dari kata layak.
Ruas jalan Soliu menuju Naikliu misalnya, masih didapati sejumlah jembatan dan plat deker roboh ditambah jalan yang masih belum diberi lapisan aspal hanya batuan lepas.

Sementara itu, Kepala Desa Afoan, Yan Kameo usai ditemui awak media, Selasa (14/05) di GMIT Narwastu Naetoko Afoan, Kecamatan Amfoang Utara menyebut jika Amfoang merupakan daerah pembuangan sebab Amfoang merupakan daerah terisolir dengan kondisi akses jalan yang rusak.
“Dari jaman orde lama hingga reformasi seperti saat ini, kami selalu mengeluh perihal akses jalan dan sarana lainnya namun hingga saat ini tidak ada perubahan. Warga kami sulit jika sedang sakit hendak rujuk ke kupang akan alami kesulitan atau para petani yang akan memasarkan hasil pertanian mereka. Makin parah kalau hujan tiba karna kali cukup luas,” ucapnya.
“Memang akhir akhir ada kapal fery namun tidak rutin, kadang 3 bulan baru jalan dan jadwal tidak menentu. Masyarakat lebih pilih lewat darat ketimbang jalur laut. Kami sangat kesulitan. Indonesia sudah merdeka 78 tahun tapi kami di Amfoang belum merdeka,” tambahnya.
Dirinya berharap, Pemerintah Kabupaten Kupang dapat memperhatikan kondisi sarana transportasi wilayah Amfoang yang belum layak agar segera diperbaiki agar masyarakat Amfoang tidak merasa tertinggal dari segi pembangunan seperti Kecamatan lain yang ada di Kabupaten Kupang.
“Kalau di Amarasi, jalan hot mix, licin, rata, baik jalan kabupaten maupun sampe dalam gang. Kami juga ingin seperti itu,” tutupnya.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
















