Kupang, ATN – Matahari sore di pesisir Kecamatan Sulamu mulai meredup, menyisakan rona jingga di cakrawala. Namun, bagi Bernabas Sura dan warga Desa Pitay lainnya, senja pada Sabtu (11/04/2026) itu terasa jauh lebih cerah dari biasanya.
Di kaki mereka, debu jalanan yang puluhan tahun menjadi kawan akrab kini mulai berganti dengan aspal hitam yang halus sebuah pemandangan yang dulunya hanya ada dalam mimpi.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Sulamu merasa seperti hidup dalam bayang-bayang. Meski secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Kupang, derap pembangunan seolah selalu berhenti sebelum menyentuh gerbang desa mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jujur saja, kami merasa miris jika mengingat kepemimpinan daerah yang terdahulu,” ungkap Bernabas saat ditemui awak media di sela-sela aktivitas sorenya. Suaranya bergetar, ada nada emosional yang sulit disembunyikan.
“Kami masyarakat Sulamu, terutama di Desa Pitay, merasa seperti dianaktirikan. Pembangunan seolah enggan mampir ke tempat kami,” tambahnya.
Namun, narasi “anak tiri” itu kini mulai terkikis. Di bawah nakhoda Bupati Yosef Lede, SH dan Wakil Bupati Aurum O. Titu Eki, S.Ars., M.Ars., wajah infrastruktur di wilayah ini berubah drastis.
Duet kepemimpinan ini tampaknya memilih untuk “membangun dari pinggiran,” menyentuh titik-titik yang selama ini terlupakan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















