Oelamasi, AtlasNews.ID – Jelang Ramadhan 1445 H, harga sejumlah kebutuhan pokok (Sembako) yang berada di pasar Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Kenaikan harga sembako yang terjadi tersebut, mendapat respon dari Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (PERINDAGKOPUKM) Kabupaten Kupang.
Kristian Koroh usai ditemui awak media, selasa(05/03/2024) pagi, mengatakan, pihaknya telah menyiapkan tim yang bertugas untuk membantu Tim Pendendali Inflasi Daerah (TIPD) memantau dan melaporkan perkembangan harga kebutuhan pokok melalui sistim yang dibangun oleh Kementrian Perdagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Dikatakan, Dinas PERINDAGKOPUKM Kabupaten Kupang bersama Tim TPID bertugas untuk memonitor perkembangan harga kebutuhan pokok yang berada di pasar Oesao.
Monitoring harga kebutuhan pokok dimaksudkan agar pemerintah Kabupaten Kupang dapat menstabilkan harga dengan melakukan operasi pasar.
Selanjutnya pemantauan perkembangan harga sebut Kris Koroh secara berkelanjutan dilaporkan melalui grup langsung ke Dinas PerindagkopUkm Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Diakui Kris Koroh, kenaikan harga beras yang cukup signifikan secara nasional terjadi, tetapi dirinya optimis kenaikan harga beras tersebut bisa dikendalikan oleh pemerintah pusat.
“Informasi yang kami dapatkan, beberapa daerah di indonesia yang merupakan lumbung padi sudah memasuki masa panen sehingga saya optimis kenaikan harga beras dapat terkendali. Saya berharap berdampak pada kestabilan harga,” terangnya.
Menurut Kris Koroh, fluktuasi harga kebutuhan pokok di pasar Oesao berdasarkan pantauan tim, tidak terjadi peningkatan semenjak awal februari lalu.
“Di Oesao harga beras lokal harga masih staknan pada harga 16.000 per kilo, yang naik itu beras premium merek Nona Kupang yang harga bergerak naik mendekati 19.000 per kilo. Kenaikan harga beras ini terjadi merata disemua pasar tradisional, toko kelontong dan kios yang ada di wilayah Kabupaten Kupang,” jelasnya.
Lanjut Kris Koroh, kenaikan harga beras yang terjadi terdampak akibat harga gabah yang tinggi ditingkat petani dan terjadinya perubahan iklim akibat siklon el nino yang mengakibatkan kekeringan yang berarti adanya peningkatan potensi puso atau gagal panen sektor pertanian lahan basah.
Selain itu, kenaikan harga beras di Kabupaten Kupang terjadi akibat dari laju inflasi di kota kupang.
“Laju inflasi kita terpengaruh dari kota kupang. Jadi kalau harga kebutuhan pokok di kota kupang naik maka hal yang sama akan terjadi di kabupaten kupang. Saya monitor, rata rata harga kebutuhan pokok di pasar Oesao sama dengan di pasar yang berada di kota kupang,” ujarnya.
“Yang terjadi sekarang, harga beras medium yang sesuai harga eceran tertinggi yang disepakati Perum Bulog yakni berkisar di harga 11.500 per kilo sementara dilapangan para pedagang menaikan harga untuk menutupi biaya operasional. Untuk beras premium tetap pada harga 14.000 per kilo,” tambahnya.
Dalam waktu dekat, ungkap Kris Koroh, pihaknya akan berkoordinasi dengan Bulog untuk dapat melaksanakan operasi pasarguna membantu meringankan beban masyarakat jelang bulan puasa dan lebaran.
Terkait hal tersebut, Dinas PerindagkopUkm Kabupaten Kupang terus menganalisa informasi dan data dari pemerintah kecamatan untuk membandingkan kebutuhan masyarakat dan ketersediaan beras, serta persiapan lokasi.
“Pengalaman kali lalu, kita lakukan operasi pasar namun kebutuhan pokok yang disediakan tidak habis terjual. Jadi perlu ada koordinasi 3 arah agar dapat dipastikan operasi pasar bisa sukses dan seluruh kebutuhan pokok yang tersedia terjual semuanya,” tutup Kris Koroh.


Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
















