Mengurai Politik Identitas Dan Politik Uang: Tantangan Menuju Pilkada 2024 Yang Bersih Dan Adil

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 8 Agustus 2024 - 15:27 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Him Mone Editor : Redaksi Dibaca 446 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Politik Identitas: Merusak Kesetaraan dan Persatuan

Pergerakan politik identitas pada awalnya memiliki nilai yang positif, gerakan ini dimulai pada tahun 1960-an di Amerika Serikat, terutama melalui gerakan mahasiswa seperti The Student Nonviolent Coordinating Committee (SNCC).

Gerakan ini menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi rasial yang melanda masyarakat Amerika pada saat itu, dimana minoritas kulit hitam dipandang rendah sehingga muncul gerakan untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan mendapatkan pengakuan serta menuntut keadilan sosial dan ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun seiring perkembangan jaman penggunaan isu politik identitas sudah bergeser dari tujuan awalnya. Politik identitas sekarang lebih sering digunakan oleh aktor-aktor berkepentingan guna mengalahkan dan menyingkirkan aktor lain, dampaknya adalah masyarakat yang terpengaruh akan mudah untuk terpolarisasi dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam masyarakat.

Menurut Lilliana Mason dan Nicholas T. Davis dalam artikel mereka yang berjudul “A New Identity Politics: How Socio-Partisan Sorting Affects Affective and Ideological Polarization in American Politics” mendefinisikan politik identitas sebagai partisipasi individu dalam politik atas nama kelompok sosial tertentu. Penelitian mereka menunjukkan bahwa konvergensi identitas sosial dan partisan meningkatkan polarisasi ideologis dan afektif, mengurangi toleransi terhadap kelompok luar, dan memperkuat bias partisan di kalangan pemilih.

Di Indonesia sendiri beberapa aktor politik menggunakan isu Politik identitas dan memanfaatkan faktor-faktor seperti agama, etnis, dan ras untuk meraih dukungan pemilih dengan cara yang berpotensi membelah persatuan masyarakat.

Dalam konteks Pilkada 2024, diharapkan para kandidat maupun timses dan simpatisan tidak memakai isu Politik Identitas untuk menjatuhkan salah satu pasangan calon. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 merupakan salah satu contoh bagaimana penggunaan isu Politik Identitas guna menyerang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) Gubernur DKI Jakarta saat itu karena latar belakang etnis Tionghoa dan agamanya yang Kristen.

Dampaknya adalah ketegangan antar sesama warga negara dimana adanya laporan beberapa pendukung Ahok yang meninggal dunia mengalami penolakan untuk dimakamkan di pekuburan umum setempat oleh masyarakat.

Dampak dari politik identitas ini bukan hanya terasa di Jakarta saja namun berdampak luas ke seluruh daerah yang ada di Indonesia. Apalagi menjelang Pilkada 2024 yang memiliki tingkat potensi konflik yang tinggi maka diharapkan agar setiap calon pasangan kandidat Untuk itu dalam konteks politik, untuk lebih mengedepankan visi, misi, ide, dan gagasan mereka dibandingkan dengan penggunaan politik identitas serta melakukan serangan personal terhadap calon lain.

Baca Juga :  Menimbang Kewajaran Penggunaan Kendaraan Dinas Oleh Mantan Kepala Daerah Dan Mantan Pimpinan DPRD, Berdasarkan Permendagri No 7 Tahun 2024

Mengutamakan politik identitas dan serangan pribadi tidak hanya melawan semangat persatuan, tetapi juga mengancam stabilitas sosial.

Kandidat yang menggunakan strategi ini cenderung memicu sentimen negatif dan konflik antar kelompok, alih-alih berfokus pada isu-isu penting seperti pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Akibatnya, tercipta iklim politik yang terpolarisasi, di mana diskursus publik menjadi semakin sempit dan terbelah.

Berita Terkait

Beli Meja-Kursi Pakai Dana BOS, Boleh atau Melanggar Hukum? Ini Aturannya.!!!
“Terimakasih Hamba Tuhan, Bapa Bupati Kabupaten Kupang “
Melalui Program Asta Rinja: Peningkatan Kinerja Organisasi, Legitimasi dan Reputasi Menuju Perubahan
Transformasi Ekonomi dan Industrialisasi Nusa Tenggara Timur: Tantangan dan Solusi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Resmi Dilantik! Yosef Lede Dan Aurum Titu Eki Berhasil Runtuhkan Hegemoni Dan Oligarki
Ormas Dan Klaim Palsu: Ancaman Bagi Kepercayaan Program Unggulan Prabowo-Gibran
Pemuda sebagai Motor Perubahan: Menjawab Tantangan Menuju Indonesia Emas 2045
Transparansi Demokrasi Tercoreng Sikap KPU Kabupaten Kupang. Kebebasan Pers Dibungkam

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp AtlasNews.ID

+ Gabung

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:05 WITA

Puluhan Tahun Dinantikan, Pembangunan Kantor Camat Kupang Barat Resmi Dimulai: Absalom Buy Apresiasi Pemkab Kupang

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:56 WITA

Menanti 53 Tahun, Gedung Kantor Camat Kupang Barat Akhirnya Dibangun Baru!

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:26 WITA

Hadir di Peletakan Batu Pertama Kantor Camat Kupang Barat, PT TOM Tegaskan Komitmen Kolaborasi dan Program CSR

Jumat, 17 Juli 2026 - 07:55 WITA

CV Sharren Putri Mandiri Luncurkan ‘Kupang Emas’, Beras Premium Pertama Asli Kabupaten Kupang

Kamis, 16 Juli 2026 - 12:38 WITA

Sinergi Jasa Raharja dan Satlantas Polres Rote Ndao Luncurkan Program PPKL di SMPN 2 Rote Barat Laut

Kamis, 16 Juli 2026 - 11:32 WITA

Jasa Raharja Dorong Integrasi Data Lintas Instansi Guna Dongkrak Kepatuhan Pajak Kendaraan

Kamis, 16 Juli 2026 - 09:06 WITA

Sepakat Dobrak Keterbatasan Anggaran, 2 Fraksi DPRD Kabupaten Kupang Setujui Pinjaman Daerah

Kamis, 16 Juli 2026 - 08:43 WITA

Beras ‘Kupang Emas’: Simbol Kedaulatan Pangan dan Kebanggaan Baru Warga Kabupaten Kupang

Berita Terbaru