Oleh: Johanis Kuahaty, S.I.P., (Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi, Universitas Nusa Cendana)
AtlasNews. ID – Indonesia saat ini berada di tengah bonus demografi, sebuah periode emas di mana jumlah penduduk usia produktif, khususnya generasi muda, mencapai puncaknya. Fenomena ini dipandang sebagai peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Namun, untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, yaitu Indonesia yang sejahtera, adil, dan berdaya saing global, partisipasi aktif serta kualitas pemuda menjadi faktor kunci.
Di balik potensi tersebut, tantangan tidak dapat diabaikan. Tingginya angka pemuda belum tentu otomatis membawa keuntungan tanpa diiringi peningkatan keterampilan, pendidikan berkualitas, dan kesiapan mental dalam menghadapi era globalisasi dan disrupsi teknologi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemuda Indonesia harus mampu menjawab berbagai persoalan, seperti pengangguran, rendahnya literasi digital, hingga masalah sosial seperti radikalisme dan kecanduan teknologi. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk bersama-sama memberdayakan generasi muda agar dapat menjadi motor perubahan yang membawa Indonesia menuju visi besar 2045.
Pemuda bukan hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang memimpin perubahan sosial, ekonomi, dan politik. Dengan kreativitas, keberanian, dan inovasi mereka, para pemuda memiliki kesempatan untuk memanfaatkan perkembangan teknologi serta menciptakan solusi atas berbagai permasalahan bangsa. Namun, semua potensi ini akan sia-sia jika tidak dikelola dengan baik.
Maka, penting bagi kita untuk mulai merumuskan langkah-langkah konkret agar pemuda mampu berkontribusi optimal dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024, lebih dari 65% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif (15-64 tahun), dengan generasi muda (usia 15-29 tahun) menyumbang sekitar 25% dari total populasi.
Bonus demografi ini diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2030, memberikan jendela peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan tenaga kerja muda dalam meningkatkan produktivitas ekonomi. Namun, Bappenas mencatat bahwa tanpa peningkatan kualitas sumber daya manusia, Indonesia berisiko mengalami stagnasi ekonomi dan kesenjangan sosial alih-alih mendapatkan manfaat optimal dari periode demografi ini.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
















