“IPAL di puskesmas kami tidak berfungsi. Tidak ada instalasi yang terhubung, tidak ada pelatihan untuk tenaga operator, sehingga limbah medis kami buang seadanya dan dimusnahkan dengan cara bakar”, beber Abdul Kadir dengan nada lirih.
Menurutnya, permasalahan IPAL bukan hanya terjadi di Fatukanutu, melainkan juga terjadi di 25 puskesmas di Kabupaten Kupang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikatakan IPAL yang terpasang rata-rata tidak pernah difungsikan dan mubazir.
Ironisnya, hingga saat ini sumber anggaran proyek IPAL tersebut tidak jelas.
“Kami tidak tahu anggarannya dari mana. Hanya disebut dari dinas, tapi detailnya tidak pernah dijelaskan”, tegasnya.
Dalam sebuah pertemuan resmi bersama Bupati Kupang di Oelamasi, Abdul Kadir sempat menyinggung kondisi IPAL yang terbengkalai. Namun, keberaniannya justru berbuah teguran keras dari pejabat dinas kesehatan.
“Saya pernah angkat masalah ini di forum, tapi dimarahi oleh Sekretaris Dinas Kesehatan yang sekarang menjabat Plt Kadis. Beliau bilang saya tidak boleh angkat masalah itu. Tapi bagaimana mungkin saya diam, sementara yang lain tidak berani bicara”, kata Abdul Kadir.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















