Oelamasi, AtlasNews.ID – Komunitas Gerakan Rakyat Miskin (GRM) Kabupaten Kupang secara resmi telah dikukuhkan dan Goerge Fanggi didaulat menjadi ketua. Acara tersebut berlangsung di Pantai Sulamanda, Desa Mata Air, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, selasa (26/03/2024) malam.
Pengukuhan ini dihadiri oleh badan Pengurus dan juga anggota dengan total anggota kini mencapai ratusan orang yang tersebar di 24 Kecamatan, 94 desa se-Kabupaten Kupang.
Komunitas Gerakan Rakyat Miskin (GRM) memiliki anggota yang tergabung dari berbagai elemen masyarakat baik itu politisi, ojek, pedagang kaki lima, masyarakat sipil, akademisi dan para aktifis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam sambutannya George meminta kepada badan pengurus dan juga anggota GRM untuk membangun konsolidasi sampai ke seluruh pelosok demi membangun kekuatan yang maksimal.

Menurut George yang juga merupakan seorang jurnalis Kabupaten Kupang, tujuan dari komunitas ini adalah untuk membentuk kekuatan dan lambang perlawanan terhadap politisi busuk yang selalu memainkan politik uang sehingga mengakibatkan rusaknya tatanan demokrasi di Kabupaten Kupang.
“Tujuan kita berkumpul bersama dan membentuk organisasi ini adalah untuk mengumpulkan kekuatan besar, membangkitkan kesadaran bersama tentang akses kekuasaan yang perlu di buka bagi kita sebagai orang miskin. Artinya kita, walaupun miskin tetapi jika kita bersatu maka kita kuat menghadapi politisi busuk yang memperoleh kekuasaan dengan uang,” tuturnya.
Dikatakan, dengan membangun kekuatan yang masif dan terstruktur secara baik, rakyat miskin bisa memperoleh akses untuk mendapatkan kesempatan menjadi anggota legislatif atau eksekutif.
George juga berpendapat jika demokrasi sesungguhnya sangat murah jika rakyat bersatu melawan politisi busuk.
“Demokrasi itu sebenarnya murah dan siapa saja bisa menjadi pemimpin, namun yang terjadi saat ini banyak sekali politisi busuk yang membodahi dan bahkan mengorbankan demokrasi dengan membeli suara rakyat. Pada akhirnya mereka (politisi) bekerja untuk keuntungan diri sendiri dan keluarga atau kroni -kroninya untuk mendapatkan modal yang dikeluarkan, sedangkan rakyat dikorbankan,” tegasnya
Goerge Fanggi juga menyoroti sejumlah anggota dewan yang telah lama duduk di kursi legislatif DPRD Kabupaten Kupang, padahal banyak sekali kader partai yang mumpuni namun karena keserakahan dan keegoisan oknum dewan, sehingga tidak memberikan ruang bagi kader lain untuk bisa mengabdi sebagai anggota dewan.
Hal tersebut ungkap Goerge telah menyebabkan tidak ada penyegaran dalam hal pembangunan, karena lembaga dewan hanya di isi oleh orang yang sama, sehingga pola pikir dalam mengawasi pembangunan tidak ada perkembangan.
“Saya dan kalian ini semua putra putri terbaik Kabupaten Kupang terbaik namun sayang sekali, karena keterbatasan uang dan fasilitas sehingga ide brilian kita terkandas oleh mereka kaum konglomerat dan kaum borjuis yang selalu memainkan uang dalam tiap hajatan politik. Selain itu egois dan serakahnya sebagian politisi menyebabkan banyak kader politisi yang tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi penyambung lidah rakyat di gedung dewan,” ucap George.
Pada kesempatan tersebut ia juga mengajak seluruh rakyat Kabupaten Kupang untuk bangkit melawan politisi busuk sehingga ke depan bisa melahirkan pemimpin dari kalangan orang miskin.
“Ini adalah keresahan dan kekwatiran kita semua rakyat miskin Kabupaten Kupang sebab jika kita tidak melawan dengan mengumpulkan kekuatan massa dengan misi yang sama, maka ke depan dan bahkan anak cucu kita hanya akan menjadi penonton karena tidak memiliki kesempatan untuk berjuang di lembaga legislatif dan eksekutif karena keterbatasan materi dan fasilitas,” terangnya.

Komunitas GRM ini sebut George Fanggi memiliki enam tujuan utama lainnya dalam proses pembentukan yaitu, 1. Melawan politik dinasti yang ada di Kabupaten Kupang, 2. Akomodir rakyat miskin agar bisa bersuara dalam membangun ide dan gagasan, 3. Merintis jalan baru dan menciptakan budaya baru dalam politik serta koordinasi dengan semua pihak yang ada sampai akar rumput, 4. Untuk memperbaiki demokrasi dan revolusi demokrasi di Kabupaten Kupang, 5. Mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih baik dalam berpolitik, 6. Membangun aksi di lapangan yang terlepas dari politik.
“Visi kami jelas, harus ada wajah baru dalam memipin Kabupaten Kupang. Seorang anak mida yang datang bukan dari latar belakang golongan pejabat, bukan elit partai, bukan dari kalangan orang kaya tapi datang dari golongan bawah, rakyat miskin,” ujarnya.
Lebih lanjut George Fanggi mengatakan, tren politik dinasti di Kabupaten Kupang sendiri telah nyata terlihat yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terkait hubungan keluarga. Dinasti politik ini lebih identik dengan kerajaan bukan dalam bentuk pemerintahan.
“Tren politik ini sudah lama ada di Kabupaten Kupang sebagai gejala neopatrimonialistik. Benihnya sudah lama berakar dan telah jadi sistim patrimonial yang mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan genealogis,” jelasnya.
“Kita lihat saja saat ini, kepala dinas atau pemangku kepentingan lainnya, datang dari keluarga pemimpin itu sendiri. Tidak pandang mampu atau tidak yang penting mau kerja dan sebagai bahan balas jasa. Atau saat pemilu kemarin, terdapat caleg yang berasal dari 1 keluarga sehingga akan ada indikasi terjadinya praktek korupsi akibat dari Politik Dinasti,” tutupnya.

Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe

















